Februari 21, 2024

Kande: Mari Mendoakan Pendidikan Kristen GMIT

Penyampaian materi dalam Seminar 3, dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun Persekutuan Doa ke-21 GMIT tahun 2022, mengangkat Topik Peran Persekutuan Doa dalam Pendidikan Kristen, dengan pemateri Dr. Fredrik Abia Kande dan moderator Mia Mausally. Fredrik Kande yang juga sebagai Ketua Tim Litbang Jemaat Pola Tribuana, menjelaskan bahwa, topik ini tentu sangat baru bagi komunitas persekutuan doa umumnya, karena membicara isu yang di luar atau tidak berkaitan langsung dengan lingkup pergumulan persekutuan doa.

Mengapa persekutuan doa untuk pendidikan Kristen? Demikian pertanyaan Fredrik mengawali materinya. Menurutnya, Pertama, Persekutuan doa merupakan komunitas yang berdoa, komunitas ini menegaskan eksistensi gereja yang berdoa. Mengapa berdoa, karena berdoa menurut Bollman (2020) sebagai senjata terbesar yang Tuhan berikan kepada gereja-Nya. Kedua, Gereja dalam menjalankan pelayanan di berbagai bidang tidak akan pernah tahu bahwa, apakah yang telah dikerjakan itu sudah sesuai kehendak Tuhan atau belum, namun hanya dengan berdoa Gereja dapat berefleksi atas apa yang dijalankannya. Sebagaimana doa sebagai sarana refleksi bagi praktik pendidikan (teologi) (Glissman,  2017). Begitu pula di bidang Pendidikan.

Ketiga, Pendidikan adalah alat kesaksian umat Allah. Bahwa, melalui pendidikan, Gereja dapat menyaksikan karunia Tuhan berupa potensi kecerdasan manusia, sehingga dapat dihasilkan sumber daya manusia yang menjadi berkat dan ikut menimbulkan dampak bagi dunia. Keempat, sebagian besar sejarah Kristen menunjukkan bahwa, gereja terlalu mengandalkan khotbah untuk mengubah hidup jemaat secara otomatis, sehingga cenderung memiliki pengakuan untuk berani mati daripada berani hidup (Willard, 2014). Ini kritik yang penting, karena seringkali kita menganggap bahwa, hanya dengan beribadah dan menyampaikan khotbah saja, kita dapat mengubah kehidupan jemaat. Padahal khotbah yang hidup itu harus berlanjut ke dalam tindakan nyata kita, melalui berbagai bidang pelayanan termasuk bidang pendidikan. Itulah sebabnya menjadi penting untuk kita memberi perhatian kepada Pendidikan Kristen. Pilihan untuk mengupayakan Pendidikan Kristen yang bermutu merupakan pilihan untuk berani hidup dan bukan berani mati. Kita kadang-kadang mau memilih mati demi Kristus, padahal Kristus juga mengajarkan kita untuk harus berani hidup demi Kristus, yakni dengan mengusahakan agenda yang bersifat jangka panjang, yang sustain.

Kelima, pendidikan Kristen GMIT sedang mengalami masalah yang serius, seperti krisis murid, krisis guru, krisis keuangan, krisis kepemimpinan, krisis manajemen, dan krisis kepedulian dari semua kita, sehingga membutuhkan kerja kolosal (kerja bersama dan kerja besar) untuk membenahinya.

Fredrik yang juga sebagai anggota Satgas BPP Pendidikan GMIT itu memberi perspektif manajemen dan perspektif teologis tentang Pendidikan Kristen GMIT. Menurutnya, sekitar awal tahun 1960, adalah Prof. Wertheim (Belanda), dalam sebuah tulisan yang berjudul “Betting on the strong or on the many”, yakni bahwa, Indonesia cenderung memilih “jumlah (sekolah) yang banyak”, bukannya “yang kuat”. Jumlah sekolah yang banyak menimbulkan implikasi pada minimnya perhatian terhadap kualitas. Sementara, dari segi teologis, landasan dari semangat dan upaya merevitalisasi Pendidikan Kristen dapat dibaca dalam Ulangan 6: 20-21, “Apabila di kemudian hari anakmu bertanya kepadamu:Apakah peringatan, ketetapan dan peraturan itu, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN Allah kita? Maka haruslah engkau menjawab anakmu itu: Kita dahulu adalah budak Firaun di Mesir, tetapi TUHAN membawa kita keluar dari Mesir dengan tanganyang kuat.”Dalam konteks penatalayanan pendidikan, peringatan, ketetapan, dan peraturan merupakan tanda dari ikhtiar dan sistem yang memastikan penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan secara berkualitas dan berkelanjutan. Karena itu menjadi warisan penting untuk masa depan GMIT.

Fredrik kemudian, membahas tentang Pohon Masalah atau masalah-masalah yang menyebabkan Pendidikan Kristen mengalami kondisi yang memprihatikan, mulai dengan adanya diskrimnasi pendidikan pada lampau, orientasi jumlah bukan kualitas, rendahnya kepedulian, masalah kesiswaan, guru, sarana prasarana, pembiayaan, tata kelola, dan peran yayasan terhadap sekolah-sekolah GMIT yang masih kurang.

Oleh karena itu Fredrik mengajak persekutuan doa, sebagai komunitas yang berdoa untuk mendoakan Pendidikan Kristen GMIT. Mari kita mendoakan sekolah-sekolah GMIT, mendoakan Yapenkris, mendoakan para kepala sekolah, para guru yang masih bergumul dengan masalah kesejahteraan, profesionalisme, status, dst. Dengan visi “Menjadi Pendidikan Kristen yang Menghasilkan Generasi  Berhikmat, Pancasialis, dan Mampu Bergaul dengan Bangsa-Bangsa tahun 2031”, kita percaya bahwa semua upaya yang sudah dan sedang dilakukan untuk mewujudkan visi tersebut diharapkan dapat membuahkan hasil. Pendidikan Kristen GMIT harus menjadi simpul gerakan bersama. Itulah sebabnya Persekutuan Doa dapat mengambill peran sebagai Pendoa, sebagai Mediator, dan sebagai Pendukung. Sebagai pendoa, PD sudah saatnya memasukan agenda Pendidikan Kristen GMIT sebagai bagian dari pokok-pokok doa di setiap saat. Sebagai mediator PD dapat berperan sebagai penghubung antara sekolah GMIT dengan mitra-mitra strategis, baik di internal gereja maupun eksternal gereja. Sebagai pendukung PD dapat mengambil bagian dalam mendukung program-program sekolah GMIT. Misalnya apa yang disebut, “Persekutuan Doa Go School”. Ini semacam merk pelayanan PD bagi sekolah GMIT.  

Saat sesi tanya jawab, banyak peserta yang mengajungkan tangan ingin bertanya, akan tetapi karena waktu yang terbatas, sehingga moderator hanya mempersilahkan 6 orang peserta untuk bertanya dan memberikan usul saran (Tuty Dopong).        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com