Juni 16, 2024

Keluarga yang memelihara ibadah (Maleakhi 3 :13-18)

Pdt. Melsiana Magdalena tadji Lena, S. Th

Bapak/Ibu/Saudara/i yang terkasih dalam Tuhan.

Bulan Oktober bagi Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menjadi momen bagi seluruh jemaat untuk mereflesikan pengalaman hidup keluarga yang Tuhan anugerahkan. Kita akan merenungkan Firman Tuhan di bawah tema: Keluarga yang memelihara ibadah. Pertanyaan penting bagi kita yakni, mengapa keluarga perlu memelihara ibadah? Atau apa pentingnya ibadah bagi keluarga? Mari kita merenungkan firman Tuhan ini untuk menemukan kehendak Tuhan bagi kita.

Bapak/Ibu/Saudara/i yang terkasih dalam Tuhan

Kehidupan orang Israel sesudah kembali dari pembuangan di Babel berada dalam pergumulan yang besar. Pajak sangat tinggi, kekeringan dan kegagalan panen karena hama belalang telah menyebabkan kelaparan. Hidup menjadi sulit, mulailah mereka mempertanyakan keadilan Allah. Mereka melihat banyak orang yang hidup tidak taat kepada Allah, akan tetapi hidup mereka semakin baik. Sementara orang-orang yang tekun memelihara ibadah kepada Allah, justru menghadapi kesusahan. Jikalau iman kita lemah lalu berhadapan dengan fakta ini maka bisa jadi, kita juga jatuh dalam dosa sama seperti Israel. Ibadah kepada Allah, oleh sebagian orang dianggap sia-sia atau tidak berguna, (ayat 14 dan 15).

Melalui nabi Maleakhi, Allah berfirman  kepada umat Israel untuk menata kehidupan mereka sebagai umat Allah. Allah telah memilih umat Israel menjadi anakNya. Allah berjanji memberkati umatNya jika mereka hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Namun umat Israel melupakan bahwa Allah begitu mengasihi mereka dan perintah Allah dirasa sebagai beban. Ketika umat kehilangan rasa kasih dan hormat kepada Allah maka ibadah tidaklah penting bagi mereka. Bahkan dianggap sia-sia, sehingga mereka kelihatannya, akan beribadah tetapi sesungguhnya mereka tidak lagi beribadah. Mereka asal-asalan saja dalam beribadah. Persembahan ternak korban adalah ternak yang bercacat celah, mereka tidak lagi mempersembahkan persepuluhan dengan tulus hati bahkan mereka melupakannya. Beribadah kepada Allah dianggap seperti sedang dalam perhitungan bisnis untung rugi, saya memberi, saya dapat apa? Kalau tidak dapat apa-apa, buat apa memberi perhatian pada hal itu. Beri banyak harus dapat banyak, kalau dapat sedikit buat apa? Mereka menganggap Tuhan sebagai alat yang dapat mereka perlakukan sesuai kehendak hati mereka. Mereka memposisikan Tuhan sebagai sekedar alat yang dapat memuaskan keinginan mereka. Lebih berani lagi, di antara orang Israel ada yang malah bicara kurang ajar tentang Tuhan, seperti disebutkan di ayat 14 dan 15. Mereka pun berani membantah Tuhan ketika nabi Maleakhi memperingatkan mereka (ay. 2). Mereka menganggap ibadah kepada Tuhan sebagai suatu kesia-siaan, tidak ada artinya, jadi tidak perlu beribadah kepada-Nya.

Bapak/Mama/Saudara/i yang terkasih dalam Tuhan.

Ketidaksetiaan kepada Tuhan dan melupakan ibadah kepada-Nya berdampak kepada perilaku hidup setiap hari. Mereka kehilangan rasa hormat kepada keluarga, terjadi ketidakharmonisan hubungan dalam keluarga karena saling mengkhianati seorang kepad yang lain. Suami-suami meninggalkan istri mereka masing-masing, mengkhianti pernikahan lalu menikah dengan perempuan yang tidak mengenal Allah. Juga rusaknya relasi antara orang tua dan anak. Anak-anak memberontak kepada orang tua. Banyak keluarga yang hancur dan banyak anak-anak yang memberontak kepada orang tuanya. Hati berbalik, tidak saling menghargai.

Umat Israel tidak menyadari kekeliruan ini. Allah memandang perkataan mereka sebagai suatu pembicaraan yang kurang ajar (ayat 13). Pada akhirnya mereka akan melihat keadlian Allah. Di antara orang-orang yang berpikir sia-sia beribadah kepada Allah, masih ada beberapa orang yang menghormati Allah, yang takut akan Allah. Mereka memahami kasih Allah dari sudut pandang yang benar. Pertama, mereka percaya bahwa Allah memperhatikan dan mendengar (ayat 26). Oleh karena itu mereka tidak dilupakan. Kedua,  Allah mencatat kesetiaan orang-orang yang takut akan Tuhan dan menghormati namaNya. Allah berkata bahwa orang-orang benar akan menjadi milik kesayangan-Nya (ayat.17). Akan terjadi pada waktunya bahwa mereka akan melihat perbedaan orang benar dan orang fasik (ayat 18). Jadi, iman kita, ibadah kita, tidak boleh diombang-ambingkan oleh perhitungan untung-rugi , dan tidak boleh digoyahkan oleh orang-orang fasik yang ada di sekitar kita.

Bapak/Ibu/Saudara/i yang terkasih dalam Tuhan

Adalah pemahaman yang keliru , jika kita beranggapan bahwa beribadah kepada Allah adalah sia-sia. Kadangkala kita berpikir secara dangkal bahwa ibadah dilakukan supaya diberkati dan diselamatkan. Padahal ibadah sebagai bentuk syukur kepada Allah. Oleh karena kita telah diberkati dan telah diselamatkan Allah maka kita beribadah. Berkat Tuhan tidak selalu berupa materi, karena itu kita tidak boleh mendangkalkan arti ibadah, bila kita tidak mengalami kelimpahan materi. Kehidupan dan kesehatan keluarga adalah pemberian Allah, jauh lebih penting daripada materi apa pun.

Ibadah adalah ketetapan Allah sendiri bagi manusia. Dengan beribadah manusia dapat menghidupi relasi yang benar dengan Allah. Ibadah bermanfaat untuk kebaikan kita agar kita memiliki ketekunan. Dengan ketekunan maka ujian-ujian dalam hidup membuat kita semakin kuat. Ibadah sangat bermanfaat untuk keberlangsungan kehidupan kita, dalam menghadapi berbagai tantangan dan pergumulan. Ibadah mengandung janji, baik untuk hidup sekarang, maupun yang akan datang. Saat kita bisa duduk sebagai satu keluarga, tenang di hadirat Tuhan, mendengarkan Tuhan dan menaikan permohonan kita, kita semakin dikuatkan, kita semakin ada dalam satu ikatan hati yang tidak mudah diputuskan. Saat beribadah kita mengeluarkan semua energi negatif dalam diri kita dan menerima energi positif masuk dalam hidup kita. Karena itu marilah lakukan ibadah dengan setia. Jadilah keluarga yang memelihara ibadah. Tuhan memberkati keluarga-keluarga. Amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com