Pdt. Loisa Ena Blegur, M. Th

Kamu sibuk di gereja.
Jadwalmu penuh dengan pelayanan.
Namamu dikenal sebagai orang yang “aktif” dan “setia”.
Kamu datang lebih awal.
Pulang paling akhir.
Selalu siap ketika diminta membantu.
Dari luar, semuanya terlihat luar biasa.
Tetapi hari ini, izinkan satu pertanyaan yang tidak nyaman ini menembus hatimu:
Apakah kamu benar-benar melayani Tuhan… atau kamu sedang menikmati dilihat orang lain sebagai orang rohani?
Karena kenyataannya, tidak semua pelayanan lahir dari hati yang murni.
Ada pelayanan yang lahir dari keinginan untuk dihargai.
Ada pelayanan yang lahir dari kebutuhan untuk diakui.
Ada pelayanan yang sebenarnya hanya ingin didengar:
“Wah, dia luar biasa… dia setia sekali.”
Dan tanpa sadar, pelayanan yang seharusnya untuk Tuhan…
perlahan berubah menjadi panggung untuk diri sendiri.
Yesus berkata: “Jagalah dirimu, supaya jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka…” — Matius 6:1
Ayat ini bukan untuk orang luar.
Ini untuk orang yang merasa rohani.
Ini untuk mereka yang aktif.
Ini untuk mereka yang terlihat setia.
Ini untuk kita.
Karena bahaya terbesar dalam pelayanan bukanlah lelah.
Tetapi hati yang mulai bergeser dari Tuhan kepada diri sendiri.
Awalnya kamu melayani dengan tulus.
Awalnya kamu melayani dengan kerinduan menyenangkan Tuhan.
Tetapi perlahan-lahan…
Kamu mulai kecewa ketika tidak dihargai.
Kamu mulai tersinggung ketika tidak disebut.
Kamu mulai lelah ketika tidak diperhatikan.
Kenapa?
Karena tanpa sadar, fokusmu sudah berubah.
Dari: “Tuhan, ini untuk-Mu.”
Menjadi: “Orang lain harus melihat aku.”
Alkitab juga berkata: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” — Kolose 3:23
Perhatikan ini baik-baik:
“Seperti untuk Tuhan.”
Bukan untuk pendeta.
Bukan untuk pengurus.
Bukan untuk jemaat.
Tetapi untuk Tuhan.
Masalahnya, banyak orang melayani Tuhan…
tetapi hatinya tergantung pada manusia.
Ketika dipuji, semangat.
Ketika diabaikan, kecewa.
Ketika dihargai, giat.
Ketika tidak dilihat, mulai mundur.
Jika itu yang terjadi, mungkin kita perlu jujur:
Apakah kita benar-benar melayani Tuhan… atau kita sedang melayani ego kita sendiri?
Coba renungkan dengan dalam:
Apakah kamu tetap setia melayani jika tidak ada yang melihat?
Apakah kamu tetap melakukan yang terbaik jika namamu tidak pernah disebut?
Apakah kamu masih mau melayani jika tidak ada ucapan terima kasih?
Jika jawabanmu “tidak”, maka mungkin selama ini kita belum benar-benar melayani Tuhan.
Kita hanya melayani perasaan ingin dihargai.
Dan yang lebih berbahaya lagi…
Pelayanan seperti ini terlihat rohani di luar,
tetapi sebenarnya kosong di dalam.
Kita sibuk di gereja,
tetapi hubungan pribadi kita dengan Tuhan mulai kering.
Kita melayani di depan banyak orang,
tetapi kita jarang berdoa ketika sendirian.
Kita terlihat dekat dengan Tuhan di depan publik,
tetapi hati kita sebenarnya jauh.
Hari ini Tuhan tidak mencari orang yang paling sibuk.
Tuhan mencari hati yang paling tulus.
Tuhan tidak membutuhkan pelayananmu.
Tuhan menginginkan hatimu.
Jika hari ini kamu merasa lelah dalam pelayanan, mungkin masalahnya bukan pada aktivitasmu.
Mungkin Tuhan sedang mengungkapkan sesuatu yang lebih dalam:
motivasi hatimu.
Hari ini adalah kesempatan untuk kembali.
Kembali kepada alasan awal.
Kembali kepada hati yang murni.
Datanglah kepada Tuhan dan katakan dengan jujur:
“Tuhan, aku mau melayani-Mu, bukan mencari pujian.”
“Tuhan, ubahkan hatiku yang mulai salah arah.”
Karena pelayanan yang benar bukan tentang seberapa banyak yang kamu lakukan.
Tetapi tentang siapa yang kamu layani di dalam hatimu.
Hari ini tanyakan dengan jujur:
Jika tidak ada satu pun orang yang melihat…
apakah aku masih akan melakukan ini untuk Tuhan?
Jika jawabannya mulai goyah, jangan takut. Itu bukan akhir. Itu adalah awal dari pemulihan.
#Selamat berakhir Pekan.
Tuhan Yesus memberkati kita semua 🙏🏻
Salam Kebun Anggur ✝️🕎